Selamat Datang

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

مرحبا أهلا وسهلا بحضوركم في موقعي هذا. موقع فردي بهيج . موقع الألبّاء

Tampilkan postingan dengan label Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pribadi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Mei 2014

Proses yang Terbengkalai

Waktu berjalan dan sekarang sudah berada dihujung semester "akhir" (sem 4) untuk studi s2 yang aku jalani.
Hari berganti hari dilalui, sekarang sudah saatnya mengakhiri studi s2 ini. Untuk itu, diperlukan tiga ujian, yakni seminar proposal, ujian komprehensif, dan munaqosyah. Tapi baru berjalan satu saja, yakni seminar proposal.
Dua minggu yang lalu, makalah kompre sudah aku mulai. Aku bangun garis besarnya. Sedikit-sedikit aku mulai menulisnya. Hingga terbengkalai sampai sekarang. Bukan karena apa tapi karena membantu orang tua, membimbing jama'ah umroh yang dibinanya. Sekarang tinggal satu bulan untuk menyelesaikannya, tapi semua ide yang ada waktu itu sudah lupa. Istilahnya, lama tak jumpa sudah tak biasa.
Hmpfh, pengen ngebut tp sudah blank rasanya. Terbayang, sanggupkah studi ini selesai sekarang. Jika tidak, maka harus bagaimana semua ini? Apa harus aku kejar dan harus selesai sekarang, atau pasrah saja sama yang kuasa baik selesai sekarang atau menambah satu semester lagi?
Jika aku pilih kejar, rasanya beban ini berat sekali. Aku detik ini lebih memilih usaha kalem, mungkin tambah satu semester lagi tidak mengapa. Meski tampaknya tak baik, tapi ini yang aku rasa riil, dengan pertimbangan kondisi aku saat ini.
Di saat dimana aku lagi pada kondisi yang tidak on fire. Saat-saat di mana aku selalu berdoa kepada Allah
اللهم إني أعوذ بك من العجز والكسل وأعوذ بك من الجبن والبخل وأعوذ بك من غلبة الدين وقهر الرجال
tp nampaknya Allah belum menunjukkah itu padaku. Di sisi lain, aku yakin Allah pasti akan mengabulkan doa hambanya yang mu'min. Tapi entah dalam wujud yang bagaimana.
Baik tidaknya keputusan aku ini, semoga diberi hasil yang baik oleh Allah s.w.t.

Rabu, 13 Juli 2011

Kecewa Lampu Padam

Semalam lembur buat revisi skripsi yang selama ini menjadi beban pikiran. Serasa berat sehingga pikiran yang lain tidak kuat ditampung. Inginnya menghindari saja. Tapi tidak bisa, menghindari sama saja sia-sia kuliahku di semarang tanpa ada penghargaan berupa syahadah kelulusan yang hanya bisa didapat dari selesainya skripsi. Tanpa ada penghargaan ilmu yang kudapat seakan sirna, karena itu adalah ilmu dunia.

Setelah lemburan semalam, hati ini lega dengan selesainya revisi. Harapan pagi ini, aku bisa melangkah satu langkah lagi dengan mencetak hasil revisi dan menyerahkanya kepada dosen penguji agar dicek dan disetujui. Tetapi apa daya, harapan hanya harapan. Allahlah yang mewujudkan. Setelah rapi, wangi, dan siap semua, aku datangi tempat fotokopi yang menyediakan jasa cetak. Ternyata aku kecewa, karena lampu padam. Aku lanjutkan perjalanan ke kampus dengan harapan ada rental komputer atau sebagainya yang menyediakan printing, tetapi daerah kampus pun lampu padam. Aku jalan-jalan keliling kampus, cari-cari informasi di kantor kampus, dari pada sudah susah-susah keluar tanpa guna. Akhirnya aku lelah dan istirahat di masjid kampus, sambil baca buku (etok-etokke, tapi moco buku malah ngantuk, wkwkwk) akhirnya tertidur pulas beberapa puluh menit. Aku terbangun, mengharap lampu sudah tidak padam. Aku menuju tempat yang menyediakan printing, ternyata lampu masih padam. Yah,, kecewa deh lampu padam....

Kamis, 18 November 2010

Renungan Pribadi

Sudah sekitar satu bulan semenjak aku menyerahkan surat bimbingan kepada kedua dosen pembimbing sampai sekarang belum melakukan bimbingan sama sekali. Pasti dosen pembimbing nanti memarahi aku, kok lama sekali baru bimbingan sekarang.
Ah aku jadi malu sendiri. Kenapa pada akhir-akhir perkuliahan ini jadi lamban begini. Padahal dari dulu aku selalu menulis makalah, dan aku bangga. Aku pikir itu bisa menjadi latihan untuk penulisan skripsi ini.
Entah kenapa itu terjadi? Aku selalu berfikir, dan hanya meraba-raba alasannya. Tidak tahu secara pasti.
Aku jadi iri pada temen-temen satu angkatan yang sudah mendahului kami-kami. Apa lagi entah semester ini aku lulus atau tidak. Tapi harus tetap berusaha dan selalu optimis.

Minggu, 31 Oktober 2010

Abah Ibuk

Abah lan Ibuk, kak labib nyuwun pangestune. Selama kak labib kuliah teng Semarang, menawi katah perubahan. Kengeng budaya-budaya seng wonten teng mriki. Kak labib berusaha ngedohi budaya-budaya ingkang awon lan mendet ingkang sae.

Katah ingkang kak labib ngertosi teng mriki. Duko urusan pelajaran, duko urusan perjalanan teng dunyo niki.

Kak labib matur nuwun, bimbingan abah ibuk wekdal tasih teng dalem. Kak labib diwejangi carane urip sae teng pondok. “Kak Labib, nek wonten roan geh derek roan”. “Kak Labib, ampun ngantos keseret teng nggene pemikiran seng melenceng. Cekelo teguh nopo seng pun diajarke teng Sarang”. “Kak Labib ampun membangga-banggakan diri sebagai anake wong niki putune wong niki”. “Tiang liyo nopo wonten seng bade mbantu Kak Labib nek boten Abah Ibuk. Dados ampun tergantung kaleh tiang lintu”. “Kak Labib kudu tanggap nek wonten nopo-nopo ingkang dibutuhke kiaine. Kudu seng cekatan”. Lan katah lintune petuah saking abah ibuk.

Abah lan Ibuk, pandongane mawon kersane Kak Labib sukses nglampahi urip niki. Sukses teng donyo sukses teng akhirat. Sukses teng donyo kados ingkang dikarepake Abah lan Ibuk, bilih Kak Labib ampun dadoso tiang kuper, ndekem teng omah, ora wani ngomong kaleh tiang. Dadoso Kak Labib ingkang cekatan.

Sukses teng akhirate kados ingkang dikarepake Abah lan Ibuk kanti printah-printahe Abah Ibuk teng Kak Labib ken jamaah, ken tangi subuh, nganti Kak Labib dijiwiti nek boten tangi-tangi. Ken belajar seng tenanan, nganti nek Kak Labib bubuk boten derek musyarawarah digugah meski Kak Labib nangis-nangis setengah sadar (kranten digugah kangge musyawarah, padahal enak-enak turu).

Kak Labib eleng sedanten niku.

Abah sosok seorang ingkang keras lan tegas. Tapi penuh kasih sayang di balik niku. Kak Labib boten eleng kekerasane abah teng kulo, kecuali cerito riyen-riyen nendang Kak Labib kranten Kak Labib ngecos Upi wekdal niku.

Ibuk sosok ingkang alus ingkang sering nasihati lan berusaha tenanan putra-putrane dados tiang sae.

Ya Allah, kulo sanget bejo gadah tiang sepah kados Abah Ibuk.

Ya Allah, tiang sepah kulo sampun berusaha kados ngoten ndadosake putrane niki dados tiang sae. Ampun sia-siaake usahanipun kekaleh, ya Allah. Dadosake putrane niki tiang ingkang dicintai Pengerane, tiang sepahe, lan menungso...

Tetes loh haru kulo kangge kebaikan kekaleh tiang sepah kulo.

Ya Allah paringi umur panjang kekaleh tiang sepah kulo. Paringi kecukupan rizki, selamet dunyo akhirat, lan kebanggaan terhadap putra putrinipun.

رب اغفر لي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا

Jumat, 08 Oktober 2010

Keluh Kesah

Tak seperti yang dibayangkan dulu. Aku bayangkan menjadi lulusan tercepat dan aku bisa. Tapi, lihat aku disini! Belum memulai sepatah kata pun.
Terbuai kemalasan. Tak tersentuh komitmen. Terlupakan oleh manisnya lamunan panjang.
Tak terasa, kini kurasa ku tak bertindak tegas melakukannya tanpa menunggu waktu nanti.

Jangan tunggu sore jika kamu bisa lakukan pagi dan jangan tunggu pagi jika kamu bisa lakukan sore.

Hamba yang lemah tanpa bantuan Sang Maha Tuan.

Jumat, 09 April 2010

Aku rindu kamu....

Betapa aku merindukanmu
Akhir akhir ini aku tak nyaman tanpamu
Aku merasa kehilangan sesuatu
Merasa aku tak tahu arah
Arah yang benar kah telah ku lewati
Berbeda waktu dulu kau ada
Ada mengarahkan aku
Bersama menuju yang sejati
Yakni tujuan hidup ini
Mendapatkan ridho ilahi

Di mana engkau, Muhammad Labib yang dulu!!!

Aku ingin kau kembali menemaniku...

Jumat, 03 Juli 2009

Libur telah tiba, hore yes. Tapi srondok jengkel.

Hari ini adalah hari terakhir ujian semester enamku di fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang.

Masalah demi masalah aku selesaikan ya dengan senyum, marah, gemes, seneng dan sedih. Semua ada. Nano-nano bangetttss. Manis, asem, asin, rame rasanya. Hari ni aja aku dibuat nesu ma penjaga kantor.

Begini ceritane.

Dari jam 8 aku nunggu temen-temen LPB (lima pemikir besar, Keren ya?!!!^^) di depan kantor. "Ta, kamu dimana? Aku dah sampe kantor nih", pesan singkatku ke Ezta. Ya tunggu di situ aku kesana. Hani, Risa, Asna pun tak luput dari sms ku.

Tapi setengah jam aku menuggu tiada satu pun yang nongol.

"Ah dari pada nunggu di sini, mendingan aku ngedit bentar di Sodiq Comp di bawah", batinku.

Aku turun ke bawah (maklum Kampus dakwah kan ada di "bukit" jadi untuk bilang pergi dari dakwah ke daerah sekitar gerbang masuk kampus 3 di mana dakwah berada kami sering menyebutnya turun) ke Sodiq Comp. Belum sampai di tempat tujuan, aku berpapasan dengan Ezta.

"Ta, aku ngedit tugas pak Ali dulu, di Sodiq"

"Lho, di atas ada siapa?"

"G ada siapa-siapa. Kamu ntar tandatangan dulu (masa-masa ujian kayak gini, karena terjadwal maka setiap mahasiswa wajib tanda tangan ujian. Bagi yang tidak tanda tangan tidak dapat nilai. Begitu aturannya)"

***

Singkat Cerita setelah aku ngedit di Sodiq Comp. Lalu aku ke kantor.
Aku ketemu Ezta. Mbak risa gak bisa ikut karena sakit. Hani Abahe haul. Asna sedang dalam perjalanan/

"Duk, (panggilanku di Fakultas Dakwah: Paduka) kamu aja yang masuk ya. Aku g bawa sepatu" pinta Ezta.

"Ok"

***

"(tanpa salam, karena aku sering salam di kantor tapi semua tidak ada yang jawab. Hanya satu dua, dan kayaknya aneh kalau ada yang salam di kantor. Aku lihat temen-temen juga tidak salam. Tapi langsung tanya) Buk, bisa tandatangan ujian Teknik Penyiaran Naskah Dakwah tidak buk", aku meminta kepada ibuk di kantor. Aku belum kenal namane tapi kenal wajahe.

"Itu kuliah hari apa ya mas, jam berapa?"

"Hari ini buk (jum'at 3 Juli) Jam pertama."

"Oooo kalu gitu itu kan jam sekarang. Jadi ke Ruangannya aja ya."
Aku ke Ezta yang nunggu diluar.

"Gimana, duk?"

"Kata ibune disuruh ke ruanganne aja"

"Lho, itu kan lom dikasih tau ruangane"

"Oh iya ya", aku kok lupa gitu. Kan rubah jadwal tapi lom dikasih tahu tempate"
Aku masuk lagi. Tanya ibu itu lagi.

"Buk, tapi itu adalah ujian pindah waktu dari hari rabu jadi hari Jum'at. Dan belum ditentukan tempatnya", terangku.

Tapi ibune gak naruh perhatian. Mendengarkan tapi tidak melihat aku.
Dia menjawab "Aku gak tau, mas tunggu bapake aja,ya", jawabnya sambil melihat ke depan. Padahal aku disamping.

Lha, tanya dengan baik, mau tandatangan ujian. Tapi, ibune gak acuh. Gak madep ngomonge. Aku gak marah pas diomongi kayak gitu. Kayae ibune juga gak tahu, jadi gak apa-apa lah. Tapi yang mbuat aku marah itu, setelah aku keluar bentar nuggu dosen-dosen yang lain datang di kantor bawa berita acara ujian, yang mungkin salah satunya adalah berita acara ujian Teknik Penulisan Naskah Dakwah.

Aku masuk lagi ke kantor. Tanya ke ibu itu lagi. Tapi ibune juga noleh ke aku. Malah ke arah Mas Madun (yang biasa ndata-data KPI di komputer), bilang, "Mas, ini lho, mase minta tandatangan terus." dengan nada merasa terganggu dan nada menyalahkan aku.
Dengar itu, aku merasa ternyata dari tadi itu ibune nyalahke aku to, sampe tidak noleh ke aku juga. Aku merasa jengkel. Udah tanya baik-baik. Mau menjalankan kewajiban, eh tapi seakan-akan aku disalahke.

Tapi untunge mas Madun dengan wajah senyum ngasih solusi, ke bu Azida (Kasubag. Akademik) aja mas. Dengan wajah jengkelku kepada ibu tadi, aku menyimpannya di depan bu Azida.

"Assalamu'alaikum, buk. Ini saya mau tandatangan Ujian Teknik Penulisan Naskah Dakwah. Ini cuma tandatangan karena tugas hanya dikumpulkan ke Pak Anasom (pengampu MK TPND)"

Ibu Azida langsung memberi lembaran form tandatangan yang lalu aku bawa keluar untuk tanda tangan.

Tapi api masih ada di dadaku. Kenapa ibune yang tadi diajak bicara, kok kayak gitu. Kok gak dikomunikasike.

Apa aku salah? Apa karena aku tidak salam di depan tadi. Ah... biasanya juga yang lain kayaknya ga salam juga. Apa aku gak sopan? gak sopan yang kayak apa? Biar sopan gimana? Ah... aku gak tau ah yang salah siapa. Yang jelas aku masih merasa jengkel dengan ibuk tadi. Tadi aku sempat perlihatkan wajah jengkelku kepada ibu itu.

Maafkan aku.

Senin, 29 Juni 2009

Kuliah

Kuliah ini rasanya banyak tugas numpuk di akhor deh. Semesteran kali ini banyak didominasi oleh tugas. Tugas buat buletin ada dua. Tugas buat proposal buletin ada 2. Tugas Resum total 5 buku. Tugas Revisi 2. Tugas nulis 2, 1 novel, 1 artikel. Yang semesteran tulis cuma 1, itu pun buat pantes-pantes tok soale nilai dah ada kata bapae.
Yah, pengalaman baru.
Tapi, rasane kuliah ini pengen ndang cepet bar. Cepet ppl, kkl, kkn, terus lulus deh.

Senin, 15 Juni 2009

Visi Misi Hidup

Menjadi orang baik, menaati segala aturan dan terutama mendapat ridho Tuhan adalah tujuanku. saya menjadikan visiku mendapatkan ridho Allah dengan menjadi orang terbaik di sisinya sebisa mungkin, dengan misi selalu menjalani kewajiban dan menjauhi larangan dan menjadi ulama seperti Dr. Said Ramdhan al-Bouti, Syaikh al-Qaradhawi, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, KH. Maemun Zubair, dan ulama-ulama hebat lainnya. Misi saya yang lain adalah menjadi orang yang bermanfaat di tengah masyarakat, karena khair an-nās anfa’uhum li an-nās.

Untuk mencapai visi misi itu saya memprogramkan banyak sekali kegiatan.

Yang paling mendasar adalah program JiDat RoLat LuKat PatSo MoJi (siji syahadat, loro sholat, telu zakat, papat poso, limo kaji). Lima program ini merupakan dasar sebagai orang muslim yang mengharap ridha Allah.

Saya berencana meneruskan kuliah S2 di al-Azhar Kairo Mesir, nyantri di Pondok Syaikh Ahmad bin Muhammad Alawi Mekkah. Untuk mencapainya tidaklah hal mudah, karena saya harus mempersiapkan semuanya dari sekarang. Mulai dari segi keilmuan, kesiapan mental, finansial, syarat-syarat penerimaan, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, saya membuat program belajar ilmu agama, lebih khususnya belajar ilmu fiqh dan usul fiqh 2 jam sehari. Hal ini berdasarkan informasi dari Dosen Kewirausahaan, Bapak Bambang Nugroho, bahwa dengan belajar 2 jam setiap hari terus menerus sampai 2 tahun seseorang mempunyai keilmuan setara dengan lulusan S2 dalam bidang tersebut.

Bebarengan dengan hal itu, saya membuat program hafalan al-Qur’an sepertiga halaman tiap hari. Tapi ini berlaku setelah saya menghafal ulang dan lancar apa yang dulu pernah saya hafal dalam al-Qur’an. Sedikit banyak, ada ayat-ayat al-Qur’an yang sudah saya hafal tapi hilang karena keteledoran saya. Agar tidak menumpuk dosa, saya lanyah-kan terlebih dahulu apa yang pernah saya hafal. Hal ini diprogramkan karena sebagai orang Islam seharusnya saya ikut berpartisipasi menjaga kelestarian al-Qur’an yang telah dijamin kelestariannya oleh Allah; karena untuk menjadi seorang ahli agama Islam yang mempelajari al-Qur’an paling tidak harus mengetahui isi al-Qur’an lebih-lebih menghafalnya’ juga untuk syarat masuk S2 Universitas al-Azhar Kairo.

Menjadi lulusan terbaik bersaing dengan teman-teman saya, mengikuti kegiatan, dan masuk dalam lulusan-lulusan pertama angkatan saya merupakan program saya yang lain. Di IAIN Walisongo Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, saya mendapatkan banyak hal yang saya butuhkan termasuk belajar komunikasi dan bergaul dengan orang lain. Kecakapan berbicara, menulis, berorganisasi dan komputer diajarkan dan dipraktekkan di kampus. Kecakapan ini merupakan bekal menghadapi masyarakat ketika saya sudah berkecimpung di dalam masyarakat.

Ditulis guna mendapatkan dukungan dari teman-teman pembaca demi terapainya tujuan yang butuh ketekunan dan komitment.

Muhammad Labib