Selamat Datang
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
مرحبا أهلا وسهلا بحضوركم في موقعي هذا. موقع فردي بهيج . موقع الألبّاء
مرحبا أهلا وسهلا بحضوركم في موقعي هذا. موقع فردي بهيج . موقع الألبّاء
Senin, 01 Desember 2008
Selasa, 18 November 2008
Sore di kampus
Sore-sore, Q di kampus. Dari pagi udah berangkat kuliah, kuliah jam pertama, jam kedua, dan loncat jam ke empat. Jam keempat selesai jam 2 siang. Aq melihat temen-temen Kordais lagi kumpul. Aq malu. Aq sebagai sekretaris kordais, tapi jarang kelihatan di acara-acara kordais. Bahkan sikapku seakan-akan aq cuma sebagai anggota biasa, tidak sebagai sekretaris. Jadi anggota pun, anggota yang pasif. Sore ini aq mau ikut rapat evaluasi kerja PMII, Aq sebagai sekretaris di PMII RADA juga jarang ikut apalagi aktiv di organisasi Islam tersebut.
Rabu, 29 Oktober 2008
AbahQ
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokaatuh.
Selamat berjumpa lagi, setelah sekian lama aku tidak menulis, alias ngeposting, kira-kira sudah satu bulan ini.
Eh, temen-temen tahu nggak kalo Abahku (terdaftar sebagai H. Aufal Marom / Aufal Marom, H.) nyalon DPD Jateng 2009 ini? Aku juga awale tanya-tanya, kok Abahku nyalon barang yo??? Aku tanyakke Abah. Abah njawab kalo ini berlangsung tidak dari keinginan Abah. Tapi ada temen Abah yang ndaftarke jadi DPD, seminggu atau berapa minggu seberum pendaftaran ditutup. Lha, Abah mikir kayae gak ada salahe nyalon. Akhire walaupun dengan waktu sesedikit itu, abah dan tim-e berusaha mendapatkan fotokopi KTP 5000 orang, untuk syarat pendaftaran. Aku juga diminta bantu minta fotokopi KTP temen-temen pondok. Akhire dapet 9000an fc.
Walaupun awale tidak ada maksud dan kehendak dari Abah, tapi Abah mendapat dorongan untuk tenanan ketika memang seharuse ada dari golongan orang yang memperjuangkan agama Islam yang menjadi legislatif negeri ini, agar bisa memperjuangkan Islam. Karena selama ini banyak kiai yang berpendapat politik itu kotor sehingga banyak yang menjauhi.
Mungkin bisa berjuang bersama dengan KH. Achmad Chalwani menegakkan Islam, di tanah air kita tercinta ini.
Selamat berjumpa lagi, setelah sekian lama aku tidak menulis, alias ngeposting, kira-kira sudah satu bulan ini.
Eh, temen-temen tahu nggak kalo Abahku (terdaftar sebagai H. Aufal Marom / Aufal Marom, H.) nyalon DPD Jateng 2009 ini? Aku juga awale tanya-tanya, kok Abahku nyalon barang yo??? Aku tanyakke Abah. Abah njawab kalo ini berlangsung tidak dari keinginan Abah. Tapi ada temen Abah yang ndaftarke jadi DPD, seminggu atau berapa minggu seberum pendaftaran ditutup. Lha, Abah mikir kayae gak ada salahe nyalon. Akhire walaupun dengan waktu sesedikit itu, abah dan tim-e berusaha mendapatkan fotokopi KTP 5000 orang, untuk syarat pendaftaran. Aku juga diminta bantu minta fotokopi KTP temen-temen pondok. Akhire dapet 9000an fc.
Walaupun awale tidak ada maksud dan kehendak dari Abah, tapi Abah mendapat dorongan untuk tenanan ketika memang seharuse ada dari golongan orang yang memperjuangkan agama Islam yang menjadi legislatif negeri ini, agar bisa memperjuangkan Islam. Karena selama ini banyak kiai yang berpendapat politik itu kotor sehingga banyak yang menjauhi.
Mungkin bisa berjuang bersama dengan KH. Achmad Chalwani menegakkan Islam, di tanah air kita tercinta ini.
Minggu, 07 September 2008
P e m i l i k K e i n d a h a n
Aku mengagumi keindahanmu
Engkau indah nan suka indah
Engkau taburkan butiran bintang
Menghiasi langit malam
Satu di antaranya terlihat indah
Besar menawan
Aku mencintaimu
Namun apalah kata berarti
Tanpa kubuat sebuah bukti
Aku mencintai tapi tak berbakti
Tidaklah bisa disebut cinta
Aku ingin mencintaimu
Aku ingin takut padamu
Aku ingin mengabdi padamu
Sehingga engkau mencintaiku
Tuhan pengatur hidupku
Engkau indah nan suka indah
Engkau taburkan butiran bintang
Menghiasi langit malam
Satu di antaranya terlihat indah
Besar menawan
Aku mencintaimu
Namun apalah kata berarti
Tanpa kubuat sebuah bukti
Aku mencintai tapi tak berbakti
Tidaklah bisa disebut cinta
Aku ingin mencintaimu
Aku ingin takut padamu
Aku ingin mengabdi padamu
Sehingga engkau mencintaiku
Tuhan pengatur hidupku
Nahwu Shorof
Nahwu dan sorof merupakan bagian ilmu yang tidak bisa dilepaskan dari mempelajari agama Islam. Seseorang yang benar-benar ingin mendalami ilmu keislaman sudah menjadi kewajiban baginya untuk menguasai kedua ilmu tersebut. Hal ini disebabkan karena sumber agama Islam memakai bahasa Arab yang fushha, yang teratur kaidah nahwu-shorofnya, badi’, ma’ani, dan bayannya.
Dikatakan bahwa nahwu adalah bapak ilmu, yakni ilmu keislaman, dan shorof adalah ibunya. Sepasang ilmu ini melahirkan ilmu-ilmu yang lain. Untuk bisa mempelajari ilmu agama yang harus kita pegang terlebih dahulu adalah ayah dan ibunya, kemudian anak-anaknya akan mengikuti.
Ada orang yang berpendapat bahwa tidak penting mempelajari nahwu-shorof. Yang penting adalah bisa memahami dan ber-casciscus dengan bahasa Arab. Mungkin benar seseorang bisa berbahasa Arab tanpa nahwu-shorof, tapi, sebatas pada bahasa yang mungkin bisa dibilang sederhana saja. Tapi bagi bahasa al-Qur’an, yang bukan sekedar kata-kata biasa, tetapi kalamullah yang mengandung rahasia, kita harus meng-explore arti-arti yang dikandungnya degan nahwu, shorof, badi’, ma’ani, bayan, dan lain-lain. Di sinilah letak kewajiban mempelajari nahwu-shorof.
Jika kita mempelajari bahasa Arab dan tidak mendalami nahwu-shorof, berarti bukan tujuan kita mempelajari ilmu keislaman, akan tetapi, mempelajari budaya asing, dalam hal ini adalah bahasa orang Arab. Kalau tujuan mempelajari bahasa Arab cuma menthok sampai situ saja, maka sama halnya dengan mempelajari bahasa asing lainnya, seperti bahasa Inggris, Prancis, China, Jepang, dan bahasa yang lain. Mempelajari bahasa Arab mempunyai nilai ibadah jika niat tersebut dilanjutkan kepada muthola’ah ilmu-ilmu keislaman berbahasa Arab dan memperlajari nahwu-shorof dan ilmu-ilmu lain yang membantu menggali rahasia-rahasia yang terkandung dalam al-Qur’an dan hadis.
Dengan demikian, tidak setiap orang yang belajar bahasa Arab mempelajari ilmu keislaman. Tapi, setiap yang mempelajari ilmu keislaman harus bisa bahasa Arab sekaligus memahami nahwu-shorofnya.
Akhir kata, saya hanya bisa berkata, tapi, Allah Maha Tahu. Mohon kritik jika terdapat kesalahan. Wabillahit taufiq wal hidayah, wallahu a’lam bisshawab.
Dikatakan bahwa nahwu adalah bapak ilmu, yakni ilmu keislaman, dan shorof adalah ibunya. Sepasang ilmu ini melahirkan ilmu-ilmu yang lain. Untuk bisa mempelajari ilmu agama yang harus kita pegang terlebih dahulu adalah ayah dan ibunya, kemudian anak-anaknya akan mengikuti.
Ada orang yang berpendapat bahwa tidak penting mempelajari nahwu-shorof. Yang penting adalah bisa memahami dan ber-casciscus dengan bahasa Arab. Mungkin benar seseorang bisa berbahasa Arab tanpa nahwu-shorof, tapi, sebatas pada bahasa yang mungkin bisa dibilang sederhana saja. Tapi bagi bahasa al-Qur’an, yang bukan sekedar kata-kata biasa, tetapi kalamullah yang mengandung rahasia, kita harus meng-explore arti-arti yang dikandungnya degan nahwu, shorof, badi’, ma’ani, bayan, dan lain-lain. Di sinilah letak kewajiban mempelajari nahwu-shorof.
Jika kita mempelajari bahasa Arab dan tidak mendalami nahwu-shorof, berarti bukan tujuan kita mempelajari ilmu keislaman, akan tetapi, mempelajari budaya asing, dalam hal ini adalah bahasa orang Arab. Kalau tujuan mempelajari bahasa Arab cuma menthok sampai situ saja, maka sama halnya dengan mempelajari bahasa asing lainnya, seperti bahasa Inggris, Prancis, China, Jepang, dan bahasa yang lain. Mempelajari bahasa Arab mempunyai nilai ibadah jika niat tersebut dilanjutkan kepada muthola’ah ilmu-ilmu keislaman berbahasa Arab dan memperlajari nahwu-shorof dan ilmu-ilmu lain yang membantu menggali rahasia-rahasia yang terkandung dalam al-Qur’an dan hadis.
Dengan demikian, tidak setiap orang yang belajar bahasa Arab mempelajari ilmu keislaman. Tapi, setiap yang mempelajari ilmu keislaman harus bisa bahasa Arab sekaligus memahami nahwu-shorofnya.
Akhir kata, saya hanya bisa berkata, tapi, Allah Maha Tahu. Mohon kritik jika terdapat kesalahan. Wabillahit taufiq wal hidayah, wallahu a’lam bisshawab.
Selasa, 26 Agustus 2008
Selamat & Sukses, PPDN!

Dan sebagai pan
imana 16 wartawan yang menjadi anggotanya mengisi Pelatihan Jurnalistik Pesanten, dan KH Ahmad Izzuddin, M.Ag (Ketua Pimpinan Wilayah Lajnah Falakiyah NU Jawa Tengah 2003-2008 & Pengasuh Pondok Pesantren Daarun Najaah Jerakah Tugu Semarang) dalam Seminar Memahami Hilal Ramadhan 1429 H. Dalam acara inti, yatiu Tidak lupa pula telah terselenggara berbagai lomba yang ikut memeriahkan Haflah Akhirussanah tersebut, seperti lomba catur, pertandingan Futsal, Fashion Santri T
Semoga Sukses, Selamet, Soleh Selalu!
Hidup Daruun Najaah!
Muhammad Labib Aufal Marom
Wakil Ketua sekaligus Sekretaris
dalam Rangkaian Haflah Akhirussanah
Pondok Pesantren Daarun Najaah
Jerakah Tugu Semarang
Wakil Ketua sekaligus Sekretaris
dalam Rangkaian Haflah Akhirussanah
Pondok Pesantren Daarun Najaah
Jerakah Tugu Semarang
Rabu, 13 Agustus 2008
Ketemu
Al hamdulillah FlashdiskQ ketemu lagi. Bener to apa yang Q bilang.
ربنا جل علاه ما لنا رب سواه
ربنا جل علاه ما لنا رب سواه
Langganan:
Postingan (Atom)